Sabtu, 21 Februari 2015

Kebersamaan kita

Bersama kalian....
Teringat dimana saat kita berjuang bersama untuk menaklukan “bahasa arab” bersama ustadz wahid tercinta… senyum, canda, tawa, air mata telah menghiasi hari-hari kita bersama…

Saat pelajaran di kelas, permainan bersama ustadz wahid, ustadz syakirin dan ustadzah inayah, nyanyi bareng bersama ustadz wahid, buat n baca puisi bersama ustadz syakirin, dengerin cerita ustadz syakirin dan ustadz wahid, tebak2an bersama ustadz…nonton bersama ustadz… debat tentang hukum islam bersama ustadz rofiq,,,
Selain aktif belajar banyak kegiatan kita yang lain guna meningkatkan kekompakan kita, rujakan bareng di taman, buka stan bakso waktu wisuda, acara syukurannya ustadz, nginep di rumah ustadz, jalan kaki bareng ke uin, nyanyi bareng dengan gitaris kita safa, ke pasar minggu bareng, buka bersama di warung kenangan assalamualaikum, syukuran ulang tahun sofyan n adnan di warung yang sama, futsal bareng, latihan untuk lomba, jalan2 ke pantai kondang merak, silaturrahmi ke rumah safa plus wisata ke telaga sarngan dan air terjunnya, jagongan di coban rondo.

Ku tahu mustahil untuk mengulang semua itu,,, itu akan menjadi kenang2an terbaik dari kalian,,, waktu bersama kalian, saat2 bersama kalian…mengenal kalian, di pertemukan di kelas pkpba itu adalah sesuatu yang sangat berharga…

Kini,.. akan susah untuk menyatukan kita semua di waktu yang sama, satu orang punya kesibukan ini,,, dan yang lain begitu,, apalagi memang kita ini sudah bisa dikatakan tua,,hehe.. Jadi, gak heran kalo tugas dan tanggung jawab pun semakin besar… tapi, sesibuk2 apapun kita, sebanyak2 apapun tugas kita, seberat2 apapun tanggung jawab kita, secapek2 apapun badan kita, semales2 apapun diri kita, tolonglah untuk tetap menjaga tali yang telah erat ini,,, setidaknya kita sempatkan sedikit waktu kita untuk sekedar bertemu dan mengeratkan tali ini kembali….

Dari kalian aku tau arti kebersamaan dan kekompakan… karena kalian duniaku :)

Aku



14 Nov 14

Aku,

Sampai saat ini pun aku tak tau siapa diri ini sesungguhnya?
Aku hanya berjalan menyusuri air ini yang ujungnya tak pasti bermuara dimana, di umurku yang bisa diakatakan mulai memasuki pintu gerbang menuju masa kedewasaan, aku pun belum menemukan titik kedewasaanku. Aku hanya menuruti apa mauku. Yaahhh.. bisalah dikatakatan egois. Oke, aku mengakuinya. Memang begitu adanya, hanya saja aku baru menyadari, ternyata kerap kali aku ngambek karena apa yang aku inginkan tak tercapai. Masih saja aku yang terbawa emosi dan tak dapat mengaturnya, sehingga semua terjadi begitu saja. 

Dalam bersosial pun, aku masih sama dengan aku yang dahulu, suka usil juga bisa dikatakan hobbyku tiap hari. Sempat terlintas sampai kapan diri ini akan tetap begini? Apakah ini yang dinamakan watak yang tidak bisa diubah itu?