Teknologi
terus berkembang seiring waktu.
Penemuan-penemuan baru yang semakin canggih pun menjadi fenomena tersendiri.
Hal ini sangat tampak jelas dengan pemakaian hp dan ipad pada semua kalangan dan jenis umur. Ini berakibat pada gaya
hidup konsumtif manusia yang semakin menjadi-jadi. Manusia kini lebih memilih
hidup yang praktis dan pragmatis.
Bumi adalah
satu-satunya habitat manusia untuk hidup (Berlia, 2008:1). Planet kita sudah
semakin tua dan mengalami banyak kerusakan. Ini ada kaitannya dengan apa yang
kini sering dibincangkan, yakni perihal global
warming. Global warming
sendiri merupakan dampak dari perbuatan manusia yang terlalu konsumtif terhadap
alam. Pemakaian listrik yang sangat tinggi, meningkatnya
pasokan pembangkit listrik, juga emisi kabon dioksida
ke atmosfer yang semakin besar, sedang hutan
yang notabene sebagai paru-paru dunia penetral karbon dioksida sekarang
telah banyak mengalami kegundulan. Hal ini disebabkan Penebangan liar tejadi di
berbagai tempat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 2,8 juta hektar
pertahun hutan di Indonesia hilang sejak tahun 2000-2005 (BNPB, 2011:4).
Pemanasan
global atau global warming ini jika
dibiarkan akan mengakibatkan mencairnya dua lapisan es raksasa Antartika dan
Greenland, sehingga tejadi banjir di beberapa daerah dan kekeringan di daerah
yang lain. Selain itu, akan terjadi kepunahan
sejumlah besar spesies, hilangnya terumbu karang, Banyak terjadi bencana alam
dan lain-lain. Karena itu segala penyebab global warming ini mendesak segera
diatasi.
Untuk
menanggulangi global warming, maka dibutuhkan gerakan sadar lingkungan yaitu
gaya hidup hijau. Sebuah gaya kehidupan yang peduli lingkungan serta
membudidayakan kesehatan dan kealamian. Gaya hidup hijau atau Green lifestyle bisa dilakukan dengan
berbagai cara, diantaranya: memaksimalkan pencahyaan dari alam, mengurangi
pemakaian plastik, mematikan lampu tidak terpakai, mendaur ulang barng yang
tidak terpakai, mengkonsumsi makanan organik,
menanam pohon di sekitar rumah dan lain-lain.
Gaya hidup
hijau sangatlah urgen dan harus dilestarikan. Namun kepedulian masyarakat
terhadap lingkunagn masih sangat minim. Hal ini dibuktikan dengan hasil studi
kementrian lingkungan (KLH) tahun 2012 menunjukkan bahwa indeks perilaku peduli
lingkungan (IPPL) masih berkisar pada angka 0,57 (dari angka mutlak 1) berarti
masyarakat masih menjalankankannya dengan setengah-setengah.
Melihat
itu, masyarakat perlu disadarkan untuk menjaga bumi ini dengan cara peduli
terhadap lingkungan karena ini adalah tanggung jawab bersama. Hal ini telah
termaktub dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 pasa 65 poin 100 tentang
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, disebutkan bahwa setiap orang
berhak dan berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup.
Untuk
memunculkan kesadaran peduli terhadap lingkungan adalah dengan pendidikan.
Karena pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara (UU Sisdiknas, 2003). Pendidikan
seperti ini dapat dimulai dari keluarga sebagai lingkungan pertama dalam
kehidupan. Selain itu sekolah sebagai sarana pendidikan juga haruslah
memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap kesadaran lingkungan hidup
masyarakat.
Pada
dasarnya pendidikan bisa didapatkan di mana saja, bisa dari teman, keluarga,
buku, sekolah, bahkan dari pengalaman pribadi. Pendidikan bukanlah sesuatu yang
sempit terbatas dengan tempat dan usia. Oleh karena itu pendidikan menjadi
wahana yang paling tepat untuk mengatasi perilaku masyarakat saat ini. Didik
dari sekarang, maka akan datang perubahan.